The High Line, New York

Sekitar setahun lalu (September 2009) saya berkesempatan berkunjung ke The High Line di New York. The High Line adalah sebuah taman/ruang terbuka kota yang berada di area West Chelsea tepian sungai Hudson,Manhattan New York. Taman yang memanfaatkan sisa elevated railtrack kuno ini relatif baru dibangun (prosesnya dimulai sekitar tahun 2002).Proses pembangunannya melibatkan amat banyak pihak dan idenya sendiri berawal dari komunitas lokal yang tak ingin jalur kereta api barang yang bersejarah ini dihancurkan. Informasi selengkapnya tentang The High Line dapat diakses di http://www.thehighline.org.

Amat banyak pengalaman ruang yang menarik yang saya alami dan amati dari taman kota ini.

Taman sebagai Tujuan Wisata

The High Line, dan kawasan sekitarnya yang adalah bekas kawasan industri lama di New York, berhasil disulap menjadi tempat yang ‘hip’, ‘cool’ dan menjadi tujuan bersantai bagi warga New York dan wisatawan asing. Gudang-gudang dan pabrik-pabrik kuno beralih fungsi menjadi cafe-cafe dan club yang amat ramai dikunjungi orang.Banyak pula bangunan tua yang beralih fungsi menjadi hunian/apartemen. The High Line menjadi salahsatu magnet utama pengunjung ke kawasan ini.

Taman ini amat unik dengan sendirinya: bekas jalur kereta api layang (elevated) setinggi 30 kaki di atas jalan yang kemudian disulap menjadi ruang terbuka/taman kota. Desain taman dikerjakan oleh James Corner Field Operations (Landscape) dan Diller Scofidio+Renfro (arsitek) yang merupakan pemenang kompetisi terbuka. Pepohonan dan tumbuhan lainnya “dibawa naik” dan ditanam di lantai,pada ruang-ruang antara balok-balok yang cukup tinggi. Sehingga pohon dan tumbuhan memang benar-benar “tumbuh” di lantai, seolah seperti taman konvensional yang terletak di tanah.

Pola lantai terinspirasi dari rel dan bantalan kereta api, dan di sana sini lantai “naik” dan menjadi kursi.Elemen-elemen asli seperti railing/parapet mempertahankan struktur lama, dipadukan dengan elemen-elemen moderen seperti metal dan kaca.Bahkan di beberapa bagian, rel-rel asli dibiarkan apa adanya. Material kayu juga digunakan untuk kursi-kursi.

Aktifitas pengunjung cukup beragam. Ada keluarga dan anak-anaknya yang bermain berlarian kesana sini;serombongan anak “ABG” nongkrong dan ngobrol;rombongan bapak ibu tua dan anak-anaknya yang sudah dewasa;pasangan-pasangan berpacaran yang “strolling”; joggers lari sore dengan kuping tertutup earphones; fotografer amatir bergaya sana-sini mengambil foto;perorangan yang duduk santai sambil membaca;orang-orang menikmati sinar matahari spring di bulan Juli sambil memandangi sungai Hudson dan tentunya rombongan turis seperti saya dan teman-teman.

The High Line adalah sebuah tempat yang “sempurna” sebagai ruang/taman kota terbuka, dinikmati dan dikunjungi oleh berbagai kalangan, tidak hanya penduduk lokal tapi juga penduduk New York dari area lain dan bahkan wisatawan.

Komersial

Salah satu focal point dari The High Line adalah sebuah hotel tower (Standard Hotel) dengan desain yang “mengangkangi” the High Line. Setengah dari tower ditopang oleh struktur transfer beam dan super column yang membentangi the High Line. Ruang publik tetap terjaga kontinuitasnya, dan area komersial “melintas” di atasnya tanpa saling mengganggu, bahkan saling menguatkan dan menambah daya tarik masing-masing fungsi.

Banyak gedung-gedung baru yang bermunculan di area sekitar the High Line. Gedung-gedung ini umumnya dirancang oleh para starchitects. Salah satunya adalah gedung kantor IAC yang dirancang oleh Frank Gehry. Kemudian persis di seberangnya adalah gedung rancangan Jean Nouvel. Beberapa gedung rancangan arsitek-arsitek terkenal lain juga segera menyusul di kawasan ini.

Yang menarik untuk dicermati adalah bahwa pembangunan komersial yang berorientasi keuntungan saling bersinergi dengan pembangunan yang berorientasi publik. Kedua hal ini tidak harus saling bertentangan, dan hal ini dibuktikan dengan amat baik pada pembangunan The High Line dan kawasan di sekitarnya. Dan hal ini memerlukan sinergi antara berbagai pihak yang berkepentingan: komunitas/publik, pemerintah kota dan developer.

“Street Theater”

Ada satu bagian yang amat menarik dari taman ini. Pada salah satu titik, terbentuk sebuah amphitheater terbuka dengan bangku-bangku kayu. Bangku-bangku ini tersusun menurun seperti layaknya amphitheater, dan bagian latar panggungnya dinding kaca yang menghadap jalan raya dibawah. Sehingga pengunjung yang duduk di bangku seolah menonton ramainya lalulintas di bawah lewat layar kaca.

Penyanyi Opera

Pada ujung utara (Fase 1) taman, saya lihat banyak orang berkumpul di sepanjang railing, seolah menunggu sesuatu. Persis di depan bagian tersebut,arah pandangan pengunjung, adalah sisi belakang dari suatu gedung apartemen tua. Saya lihat di salah satu balkon, ada sehelai taplak meja (atau seprai?) bermotif checkerboard warna merah yang terjemur di railing.Saya pikir mungkin ini ada hubungannya dengan kumpulan orang-orang yang menunggu disini.Saya mencoba mendengar obrolan orang-orang di sekitar yang tampaknya adalah orang lokal.Nah jadi konon pada jam tertentu setiap hari, si penghuni apartemen yang adalah seorang wanita tua akan keluar ke balkon dan bernyanyi bak penyanyi opera:). Sayangnya saya tidak punya cukup waktu untuk menunggu si “biduanita” tersebut beraksi dan menghibur para pengunjung.

Revitalisasi

Satu lagi pelajaran “ber-kota” yang amat penting dari kawasan The High Line adalah bagaimana suatu program revitalisasi kawasan tua dapat menjadi sukses karena faktor mudahnya akses pencapaian. Kota New York memiliki jaringan subway (salahsatu yang tertua di dunia) dan moda transportasi massal yang telah mencapai seluruh bagian kota dan sekitarnya, termasuk kawasan tua yang dulu adalah jantung industri kota. Kawasan tua ini kemudian perlahan ditinggalkan oleh industri karena tidak lagi kompetitif. Revitalisasi kawasan dengan mengubah fungsi menjadi komersial dan residensial dapat dengan “mudah” dilakukan bila ditilik dari sisi aksesibilitas, karena kawasan ini telah terhubung dengan baik oleh jaringan transportasi massal.

Jaringan transportasi massal ini adalah hal yang tidak ada pada kawasan kota tua Jakarta, apabila kita ingin membandingkan. Padahal banyak kawasan di kota-kota kita di Indonesia yang amat berpotensi untuk dikembangkan menjadi seperti kawasan The High Line di New York ini. Namun keterbatasan jaringan transportasi massal dan fasilitas kota lainnya menjadi salah satu halangan utama revitalisasi kawasan kota tua.

Comments are closed.